Dari Kampus ke Panggung Dunia: HI UNS Bekali Mahasiswa Baru dengan Realitas dan Tantangan Menjadi Diplomat

Surakarta, 19 Agustus 2026—Laboratorium Soft Power Diplomacy Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (HI UNS) berkolaborasi dengan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Bangka Belitung (UBB) menyelenggarakan Kuliah Perdana bertajuk “Dari Kampus ke Panggung Dunia, Jalan Panjang dan Perjuangan Menjadi Diplomat” pada Rabu (19/8). Kegiatan ini menghadirkan Direktur Pasifik dan Oseania Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Adi Dzulfuat, serta Duta Besar Senior sekaligus Sekretaris Jenderal Indian Ocean Rim Association (IORA), Dr. Salman Al Farisi.

Pada sesi pertama, Adi Dzulfuat mengajak mahasiswa memahami bahwa menjadi diplomat membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan pengetahuan dasar Hubungan Internasional. Seorang diplomat perlu memiliki berbagai keterampilan praktis, seperti searching, negotiating, drafting, reviewing, dan reporting. Di antara keterampilan tersebut, kemampuan menulis menjadi salah satu kompetensi penting karena aktivitas diplomasi banyak berkaitan dengan penyusunan berbagai dokumen dan komunikasi resmi.

Selain keterampilan teknis, Adi menekankan pentingnya memiliki wawasan yang luas sekaligus mengembangkan penguasaan terhadap isu tertentu. “We know something about everything,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa perlu membangun kemampuan untuk memahami berbagai isu sekaligus memiliki bidang tertentu yang dapat menjadi keahlian.

Adi juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak menyamakan studi Hubungan Internasional dengan profesi diplomat. Menurutnya, tidak semua diplomat berasal dari latar belakang HI dan tidak semua mahasiswa HI harus menjadi diplomat. Kompetensi yang diperoleh selama studi dapat diterapkan dalam berbagai jalur karier, termasuk korporasi, jurnalistik, maupun bidang profesional lainnya yang berkaitan dengan isu internasional. Keinginan untuk bekerja atau memperoleh pengalaman di luar negeri pun dapat ditempuh melalui beragam profesi, sehingga mahasiswa perlu memahami tujuan dan alasan di balik pilihan karier masing-masing.

Sementara itu, pada sesi kedua, Dr. Salman Al Farisi membawa mahasiswa melihat diplomasi dari perspektif praktik. Ia membahas berbagai aspek yang tidak selalu terlihat ketika diplomasi hanya dipelajari melalui teori, termasuk dinamika negosiasi, kemampuan beradaptasi dengan budaya, serta pentingnya memahami konteks dalam interaksi diplomatik. Cara berkomunikasi, latar belakang budaya, hingga tanda dan simbol dalam sebuah pertemuan dapat memengaruhi bagaimana suatu pesan diterima. Karena itu, kepekaan membaca konteks menjadi salah satu kemampuan penting dalam praktik diplomasi.

Dr. Salman juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis bagi seorang diplomat. “Kita menghubungkan satu hal dengan yang lain, fenomena dikaitkan ke pengetahuan, dianalisis, lalu dikomunikasikan hasilnya,” jelasnya. Kemampuan tersebut memungkinkan seorang diplomat tidak hanya memahami suatu fenomena, tetapi juga menganalisis keterkaitan berbagai faktor dan mengomunikasikan hasil analisis secara efektif.

Pembahasan kemudian diarahkan pada perjalanan sejarah diplomasi Indonesia. Dr. Salman mengingatkan bahwa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dibentuk pada 19 Agustus 1945, hanya dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Bagi Indonesia yang baru berdiri, diplomasi memiliki peran penting dalam mempertahankan eksistensi Republik di tengah lingkungan internasional. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia sejak awal merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan sekaligus membangun posisi Indonesia di dunia.

Pesan mengenai panjangnya proses membangun kompetensi dan karier tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang mengikuti Kuliah Perdana. Baik memilih profesi diplomat maupun jalur karier internasional lainnya, mahasiswa perlu mempersiapkan diri secara bertahap melalui pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Laboratorium Soft Power Diplomacy HI UNS, Dr. Muhnizar Siagian, M.I.Pol., dalam closing statement-nya. “Pengetahuan itu seperti anak tangga. Kalau [ada yang] dilewati bisa jatuh, jadi harus naik sesuai dengan levelnya,” ungkapnya.

Kegiatan Kuliah Perdana ditutup dengan pantun dari pembawa acara dan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan memperoleh gambaran yang lebih realistis mengenai dunia diplomasi sekaligus memahami bahwa perjalanan menuju karier internasional membutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Bagi HI UNS, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan mahasiswa pada perspektif praktis sejak awal masa studi serta membangun kesiapan mereka menghadapi berbagai pilihan karier di tingkat nasional maupun internasional.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait

Berita Terbaru