Surakarta, 1 Juli 2026—Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMATERS) UNS menyelenggarakan kegiatan Sarana Aspirasi Mahasiswa: Pelaporan dan Usulan Kampus (SAMPLUX) sebagai sarana dialog antara mahasiswa dan dosen. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, kritik, saran, serta menerima umpan balik secara langsung dari para dosen. Para mahasiswa menyampaikan kekhawatiran yang mereka rasakan selama mereka menjalani perkuliahan, mulai dari proses belajar mengajar hingga sarana prasarana program studi.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Zahra sebagai Ketua SAMPLUX, Raihan sebagai Ketua HIMATERS, serta Pak Ferdi sebagai Pembina HIMATERS. Jalannya diskusi dipandu oleh Celine sebagai moderator. Kegiatan diawali dengan pembacaan aspirasi mahasiswa yang kemudian ditanggapi langsung oleh dosen.
“Diskusi ini bersifat dua arah. Ada saran, ada koreksi, tetapi di sisi lain juga ada introspeksi bersama,” ucap Pak Ferdi dalam sambutannya.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa menyampaikan berbagai keluhan mereka, mulai dari sarana prasarana perkuliahkan, seperti AC yang tidak berfungsi dengan baik, proyektor yang tidak memadai, hingga pertanyaan mengenai timeline kegiatan belajar mengajar maupun seminar. Kekhawatiran lain juga turut disampaikan, meliputi kedisiplinan dosen dalam hal kehadiran dan responsivitas komunikasi.
Menanggapi aspirasi terkait layanan dasar pendidikan, Pak Nizar menegaskan bahwa persoalan tersebut telah menjadi perhatian bersama. Pihak program studi telah menyampaikan keluhan tersebut ke pihak fakultas karena tidak hanya mahasiswa yang merasakan ketidaknyamanan tersebut, para dosen juga turut merasakannya. Beliau juga menyampaikan permintaan maaf sekaligus penjelasan terkait alasan pelaksanaan seminar yang kerap mendadak.
“Saya minta maaf apabila tiba-tiba ada pelaksanaan seminar. Kegiatan pembicara yang padat menjadi salah satu faktor eksternal karena harus menyesuaikan jadwal secara berulang kali. Ini menjadi PR bagi kami untuk membuat perencanaan yang lebih terstruktur ke depannya,” tambah Pak Nizar.
Aspirasi terkait gelar akademik juga langsung dijelaskan bahwa memang bisa untuk diganti dan bisa juga untuk diusahakan. Namun, Pak Nizar juga menegaskan bahwa penyesuaian gelar tidak akan berdampak signifikan terhadap keabsahan maupun nilai ijazah mahasiswa.
Isu terkait jatah absensi yang masih dibingungkan oleh mahasiswa mendapat respon dari beberapa dosen, seperti Pak Nizar, Pak Chanif, Pak Galan, hingga Pak Aji. Mereka menegaskan bahwa aturan resmi terkait ketidakhadiran diserahkan kepada kebijakan masing-masing dosen sesuai dengan kebutuhan mata kuliah. Namun, ditegaskan juga bahwa merujuk pada SK Rektor, kehadiran mahasiswa harus 75%. Para dosen juga turut menekankan bahwa pentingnya manajemen waktu bagi mahasiswa dalam menjalankan tanggung jawab akademik. Pihak program studi juga sangat terbuka apabila mahasiswa ingin menyampaikan kritik dan saran mereka selama aspirasi disampaikan secara konstruktif dan sesuai konteks.
Diskusi ini juga membahas terkait sejumlah usulan pengembangan, termasuk kemungkinan pelaksanaan kuliah lapangan bagi mahasiswa HI. Mengingat bahwa keadaan dunia profesional yang lebih kompleks, beberapa kemampuan sangat dibutuhkan, khususnya adaptasi terhadap dunia luar. Meskipun pelaksanaannya memerlukan kajian lebih lanjut terkait pendanaan dan juga perizinan, maka isu tersebut akan ditindaklanjuti dengan diskusi secara lebih lanjut antara dosen dan mahasiswa.
Banyaknya mahasiswa yang merasa kebingungan terhadap tempat magang yang selaras dengan HI juga membuat para dosen memberikan respon positif. Mulai dari pembuatan modul magang hingga penyelenggaran workshop yang mendatangkan pembicara dari mahasiswa yang memiliki pengalaman. Selain itu, dibahas pula pendataan jaringan mitra instansi untuk memudahkan mahasiswa memperoleh kesempatan magang yang sesuai dengan minat masing-masing dengan tetap memperhatikan kesesuaian jurusan.
“Dosen bisa membantu memberi daftar tempat magang, baik di luar daerah maupun yang dekat dengan rumah, disesuaikan dengan passion masing-masing mahasiswa. Yang penting, harus benar-benar profiling dulu,” ujar Pak Galan.
Para dosen turut menyoroti pentingnya evaluasi kerja kelompok yang lebih transparan. Setiap mahasiswa diharapkan saling terbuka mengenai proses pengerjaan tugas kelompok. Selain penilaian dari dosen, mahasiswa juga diimbau untuk melakukan evaluasi diri secara personal. Jika terdapat kendala atau ketidaknyamanan, dosen siap menerima laporan dengan catatan mahasiswa yang bersangkutan telah menyampaikan masukan atau perbaikan terlebih dahulu kepada rekan sekelompoknya.
Sebagai penutup sesi diskusi, Bu Leni selaku Kepala Program Studi Hubungan Internasional memberikan tanggapan singkat. Terkait pertanyaan mahasiswa mengenai kegiatan table manner yang tidak diadakan lagi. Bu Leni menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang cukup sering diselenggrakan, namun partisipasi mahasiswa cenderung kurang antusias atau tidak serius. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya bukan kegiatan wajib, sehingga penyelenggaraannya bersifat opsional. Ia menyarankan untuk kedepannya kegiatan ini dapat diinisiasi oleh mahasiswa dengan tetap difasilitasi oleh program studi.
Sesi diakhiri dengan beberapa pesan yang disampaikan oleh Bu Leni, bahwa baik dosen maupun mahasiswa memiliki prioritas masing-masing. Harapannya mahasiswa diharapkan tidak mudah menyerah menghadapi hal-hal kecil. Ia turut menyampaikan pesan motivasi kepada mahasiswa yang hadir, bahwa sesulit apapun suatu keadaan, selalu ada jalan keluarnya.
“Bukan soal ujungnya, tapi nikmati bagaimana prosesnya. Tetap ingat, prioritas utama kita adalah menyelesaikan kuliah sampai selesai,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNS menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dan kolaborasi antara mahasiswa dan dosen demi peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan.