Surakarta, 17 Juni 2026—Laboratorium Soft Power Diplomacy Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS) sukses menyelenggarakan talkshow interaktif bertajuk “Kota dan Isu Toleransi” pada Rabu, 17 Juni 2026. Bertempat di Ruang 3.2.7 Gedung FISIP UNS, diskusi ini menghadirkan empat pakar lintas institusi untuk membedah dinamika keberagaman, tantangan tata ruang kota, hingga potret diskriminasi yang masih membayangi kelompok minoritas di Indonesia.
Acara diawali dengan sesi pemantik oleh Bapak Ali, yang membagikan pengalamannya dalam mendampingi kelompok minoritas. Beliau menyoroti kasus pelarangan kegiatan Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai contoh nyata pembatasan hak berkumpul dan berkeyakinan. “Perbedaan keyakinan adalah realitas sosial yang tidak bisa dihindari. Jemaat Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak 1925 dan terus berkontribusi bagi bangsa, sehingga perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengeliminasi hak-hak konstitusional mereka,” tegasnya.
Menyambung realitas tersebut, dosen Sosiologi UNS, Dr. Aris Arif Mundayat, mengupas akar intoleransi dari perspektif sejarah dan sosiologi politik. Merunut sejarah sekularisme pasca-Perjanjian Westphalia, ia menjelaskan bahwa intoleransi kota kerap dipicu oleh asabiyah—sikap eksklusif dan fanatisme kelompok yang mempertegas sekat sosial. Dr. Aris juga mengingatkan bahwa desain tata ruang kota yang salah bisa memperparah segregasi identitas jika tidak menyediakan ruang interaksi yang inklusif. Sebagai solusi, ia menawarkan konsep interculturalism yang mendorong perjumpaan fisik dan dialog antar-kelompok secara natural.
Diskusi semakin kaya ketika peneliti BRIN, Dr. Albert Muhammad, memaparkan potret pengelolaan keberagaman di luar negeri, khususnya Rusia. Pengalamannya di Negeri Beruang Putih menunjukkan bahwa tiap negara punya karakteristik unik. Di Rusia, budaya masyarakat yang cenderung tegas membuat isu sensitif seperti keagamaan tidak terlalu menonjol di ruang publik, karena diredam oleh kebijakan publik yang ketat dalam menjamin ruang hidup bersama. Merespons hal tersebut, Muhammad Chanif Hidayat, M.A. (Dosen Hubungan Internasional UNS) menekankan substansi dari toleransi itu sendiri. Menurutnya, toleransi bukan sekadar membiarkan orang lain hidup (co-existence), melainkan aktif menghormati martabat kemanusiaan mereka. Konsep moderasi beragama inilah yang harus dirawat sebagai fondasi utama masyarakat majemuk Indonesia.
Sebagai penutup, Dekan FISKOM UKSW, Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., membagikan kisah sukses Kota Salatiga yang berhasil mempertahankan predikat Kota Paling Toleran peringkat ke-1 versi SETARA Institute. Melalui gerakan “Sobat Anak”, Salatiga mengimplementasikan nilai memanusiakan manusia melalui pengalaman interaksi lintas agama sejak usia dini. “Toleransi itu tidak cukup hanya dihafal secara teoretis di kelas. Ia harus tumbuh dari perjumpaan langsung, komunikasi yang sehat, dan keteladanan dalam praktik sosial sehari-hari,” jelas Dr. Sri.
Melalui talkshow ini, para peserta diajak melihat bahwa isu toleransi bersifat multidimensi—melibatkan kebijakan publik, tata ruang kota, dan kedewasaan relasi sosial. Melalui diseminasi pemikiran ini, Laboratorium Soft Power Diplomacy HI UNS berharap dapat memantik kesadaran kritis mahasiswa untuk ikut merawat keberagaman serta mewujudkan ruang kota yang adil, aman, dan manusiawi bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.