Yogyakarta, 31 Oktober 2025—Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Grup Riset Kajian Keamanan, Konflik, dan Perdamaian menggelar kegiatan Bootcamp Publikasi Scopus dengan tema “Penguatan Kapasitas Riset dan Penulisan Ilmiah Bereputasi”, yang diselenggarakan pada 31 Oktober sampai 1 November 2025 di Antasena Room, Satoria Hotel, Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk memperdalam kemampuan menulis artikel ilmiah yang layak terbit di jurnal bereputasi internasional, sekaligus memperkuat pemahaman etika dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada proses penulisan ilmiah.
Sebagai narasumber utama, Dr. Muhammad Yamin, S.IP., M.Si. dari Universitas Jenderal Soedirman memberikan materi tentang strategi penulisan artikel bereputasi dan pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung produktivitas riset. Dalam pemaparannya, Dr. Yamin menekankan bahwa penggunaan AI dalam penulisan ilmiah dapat menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat—seperti untuk penyusunan struktur artikel, analisis data, maupun penyempurnaan bahasa akademik—selama digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai etika akademik.
“AI seharusnya menjadi mitra peneliti, bukan pengganti penulis. Integritas akademik tetap harus dijaga dengan memastikan ide, analisis, dan kesimpulan berasal dari penulis itu sendiri. Peneliti tidak boleh diperbudakan AI” ujar Dr. Yamin dalam sesi diskusi.
Kegiatan ini juga membahas secara mendalam batas-batas etis dalam penggunaan AI, termasuk isu plagiarisme digital, keaslian karya ilmiah, serta kewajiban untuk mengungkapkan keterlibatan AI dalam proses penulisan, sesuai dengan pedoman publikasi ilmiah internasional terkini.
Ketua Grup Riset Kajian Keamanan, Konflik, dan Perdamaian UNS, Dr. Leni Winarni menyampaikan bahwa tema ini dipilih karena relevansinya dengan dinamika dunia akademik modern. “Pemanfaatan AI dalam riset dan publikasi adalah keniscayaan. Namun, penting bagi akademisi untuk memahami bagaimana menggunakan teknologi tersebut secara etis, agar tetap menjunjung tinggi integritas ilmiah,” jelasnya.