Surakarta, 25 Juni 2026—Laboratorium Soft Power Diplomacy Hubungan Internasional UNS menyelenggarakan talkshow dengan tajuk “Algoritma Postmodern dan Kebenaran Digital” pada Rabu, 24 Juni 2026. Acara yang dimulai pada pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2024. Enam pembicara lintas disiplin dihadirkan untuk membahas dinamika media digital, kapitalisme perhatian, hingga implikasinya pada Hubungan Internasional. Keenam pembicara ini adalah Sri Herwindya Baskara Wijaya, S. Sos., M. Si., Ridwan Rustandi, M. Sos., Prof. Andrik Purwasito, DEA, Afrizal Fajri, S. Sos., M. Sos., Septi Anggita Kriskartika, S. S. , M. Sos., dan Ahimsa Adi Wibowo, M. A.
Dalam sesi pertama, Prof. Andrik membuka sesi diskusi dengan menyoroti fenomena hyper-reality dan dekonstruksi dalam era digital. Tak hanya itu, ia juga menekankan bagaimana kapitalisme digital mengubah pandangan masyarakat. Kemudian, diskusi dilanjutkan bersama Kak Anggita yang mengangkat persoalan identitas di media sosial dan representasi fenomena di media sosial. Selama menjadi dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi, dirinya menyadari bahwa terdapat banyak pengguna media sosial yang kehilangan orientasi diri karena terjebak dalam ‘peran’ yang dimainkannya. Ia juga menyoroti bagaimana dampak negatif dari fenomena ini yang membuat Gen Z semakin rentan terhadap gangguan psikologis. Selain itu, Kak Anggita juga mengungkapkan bahwa merepresentasikan fenomena yang sedang hype itu bergantung pada cara pandang yang berbeda-beda setiap orang. Kebiasaan hingga gaya hidup yang berbeda memengaruhi bagaimana setiap individu memproses apa yang sedang mereka konsumsi.
Sesi diskusi semakin menarik bersama Pak Ridwan dengan membawa perspektif keagamaan yang disangkutkan dengan spiritual searching. Menurutnya, praktik keagamaan kini bergeser seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini didasari oleh penyebaran dakwah yang seringkali dilakukan lewat platform seperti YouTube, Instagram, dan lain sebagainya. Dunia digital juga memunculkan figur otoritas keagamaan dengan pendekatan personal yang jangkauannya bahkan melampaui institusi resmi. Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa adanya network religion mampu mendatangkan pengalaman dan pengamalan yang bermacam-macam dari agama-agama lain.
Selanjutnya, Pak Erwin membawa sesi diskusi dengan topik bagaimana algoritma platform digital membentuk dan memengaruhi konsumsi informasi masyarakat. Di era digital ini, algoritma telah bertransformasi menjadi mekanisme aktif yang mengarahkan perhatian pengguna dan pada akhirnya bermuara pada kepentingan kapitalisme. Pak Erwin mengungkapkan bahwa tidak ada media yang benar-benar netral karena setiap platform membawa suatu kepentingan. Sehingga, kemampuan untuk mengakses, memproduksi, mengkritisi, hingga mengevaluasi berbagai pesan melalui berbagai saluran menjadi kompetensi yang harus dimiliki setiap individu, mencakup kompetensi teknis, kognitif, maupun sosial. Pada akhirnya, komunikasi merupakan medan pertarungan. Wacana yang beredar bukan terbentuk secara alamiah, melainkan diperebutkan.
Sebagai contoh nyata, Pak Nizar membuka sesi tanggapan bersama beberapa mahasiswa, yaitu Ale, Putra, dan Kamal selaku konsumen dengan paparan media sosial yang tinggi dengan menggambarkan secara langsung bagaimana algoritma dan logika platform bekerja pada perilaku nyata pengguna. Ale dan Putra menanggapi fenomena ini dengan membawa persoalan budaya self-reward sebagai bentuk apresiasi diri atas usaha-usaha yang telah dilakukan. Sementara itu, Kamal menanggapi dengan membedakan antara posting untuk ekspresi diri dengan sebatas formalitas saja. Tanggapan Ale, Putra, dan Kamal menggambarkan secara nyata bagaimana algoritma bekerja pada perilaku pengguna sehari-hari akibat dorongan yang secara tidak langsung terjadi dalam individu.
Pak Adi sebagai pembicara selanjutnya mengungkapkan bahwa dahulu media yang berusaha mengontrol setiap individu. Namun, di era yang semakin berkembang ini, justru media dan konsumen sama-sama memengaruhi satu sama lain. Mereka memiliki kekuatan yang sama untuk mengontrol satu sama lain.
Sesi diskusi terakhir dibawakan dengan kesan yang menyenangkan dari Pak Afrizal. Pak Afrizal membuka sesi diskusi terakhir dengan pantun khasnya. “Ikan lele makan bakwan. Piye kabare kawan kawan,” sapanya yang memunculkan reaksi hangat dari peserta. Dalam sesinya, Pak Afrizal membawa diskusi ke ranah Hubungan Internasional dengan konsep cyber sovereignty dan domain siber sebagai arena dalam politik global. Pak Afrizal menerangkan bahwa algoritma, echo chamber, dan keamanan data kini menjadi isu kedaulatan yang serius. Prof. Andrik juga menimpali dengan konsep nano power diplomacy dan diplomasi algoritmik sebagai pendekatan riset non-tradisional.
Talkshow ini ditutup dengan refleksi bahwa ruang publik digital, meski demokratis secara akses tetapi menyimpan kompleksitas baik itu dalam kebenaran, kekuasaan, hingga identitas. Hal ini menjadi tantangan relevan bagi akademisi Hubungan Internasional di masa depan.