Surakarta, 24 Oktober 2025—Grup Riset Kajian Isu Global Program Studi Hubungan Internasional (HI) FISIP UNS menyelenggarakan sesi diskusi akademik bertajuk “Sharing & Discussion: Ide-ide Riset bagi Peneliti Pemulai Sosial, Politik, dan Humaniora” yang bertujuan mendorong semangat riset dan penulisan ilmiah di kalangan mahasiswa. Acara ini menghadirkan peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Cahyo Pamungkas sebagai pembicara.
Dalam sambutannya sekaligus membuka acara, Dr. Likha Sari Anggreni, S.Sos., M.Soc.Sc. sebagai Wakil Dekan I FISIP UNS menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam eksplorasi isu-isu yang mungkin terlewat oleh dosen. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa HI tidak hanya terpaku pada hal-hal teknis semata, namun juga memerlukan kedalaman pengetahuan terhadap isu-isu spesifik. Dr. Likha menggarisbawahi peran dosen sebagai pendamping yang bertugas mengarahkan tulisan mahasiswa agar memiliki keterkaitan yang kuat dari awal hingga akhir. “Harapan terbesar kami adalah mahasiswa tidak hanya menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga mampu menerbitkan karya ilmiahnya dalam bentuk jurnal,” tegasnya.
Sesi utama menghadirkan Prof. Cahyo Pamungkas dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Prof. Cahyo berbagi pengalaman lapangan dari berbagai penelitian yang pernah ia lakukan di wilayah konflik seperti Mindanao (Filipina), Pattani (Thailand Selatan), dan Papua. Ia menjelaskan perbedaan dinamika konflik di ketiga wilayah tersebut—mulai dari bentuk perang terbuka di Mindanao hingga perang gerilya di Thailand Selatan—serta berbagai tantangan yang dihadapi peneliti ketika meneliti isu-isu sensitif seperti kekerasan dan penyakit di Papua.
Lebih dari sekadar berbagi pengalaman, Prof. Cahyo juga memberikan sejumlah tips penting dalam melakukan riset sosial dan politik. Ia menekankan bahwa peneliti tidak boleh memandang informan sebagai pihak yang tidak tahu. Menurutnya, hubungan antara peneliti dan informan harus bersifat timbal balik, di mana keduanya saling belajar dan memahami. “Wawancara bukan sekadar mencari data, tetapi membangun persaudaraan,” ujarnya. Ia menambahkan, empati merupakan kunci dalam penelitian lapangan—peneliti perlu merasakan apa yang dirasakan informan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
Selain itu, Prof. Cahyo mengingatkan pentingnya menonjolkan novelty atau kebaruan dalam setiap tulisan, baik dari sisi teori, konsep, maupun pendekatan. Ia juga menegaskan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai dan tuntas, dengan struktur yang jelas mulai dari judul, abstrak, pendahuluan, pembahasan, hingga kesimpulan. Sebagai penutup, ia berpesan agar mahasiswa tidak patah semangat ketika tulisan mereka ditolak oleh jurnal, sebab penolakan merupakan bagian dari proses akademik yang dapat menjadi masukan berharga untuk perbaikan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa HI UNS diharapkan dapat memperluas wawasan riset, mengembangkan kepekaan sosial, serta meningkatkan kemampuan menulis ilmiah yang berdaya saing.