Surakarta, 27 April 2025—Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-13 Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (HI UNS), HI UNS mengadakan IR-NNIVERSARY x International Relations Seminar (IRES) bertajuk “Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Era Kontemporer dan Tantangannya Pasca 80 Tahun Kemerdekaan.” Acara ini menghadirkan Drs. Muhadi Sugiono, M.A., dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai pembicara utama, serta diikuti oleh mahasiswa dan dosen HI UNS.
Dalam paparannya, Drs. Muhadi Sugiono menekankan posisi Indonesia sebagai rising power yang semakin diperhitungkan di tingkat global. Indonesia dinilai berhasil mengombinasikan dua hal yang kerap dianggap tidak kompatibel, yakni Islam dan demokrasi, serta mampu menjaga stabilitas politik domestik. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) yang memiliki pengaruh penting dalam percaturan internasional.
Namun, menurutnya, Indonesia juga menghadapi sejumlah keterbatasan, mulai dari sumber daya finansial dan teknologi, faktor geopolitik, hingga konstelasi politik dalam negeri yang dipengaruhi nasionalisme dan fragmentasi politik. Tantangan lain yang menonjol adalah bagaimana Indonesia mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan, di tengah keterbatasan pengaruh pada kebijakan lingkungan global.
Muhadi juga menyinggung tentang Bali Democracy Forum sebagai salah satu flagship politik luar negeri Indonesia. Forum ini unik karena mengundang tidak hanya negara demokrasi, tetapi juga non-demokrasi. Namun, di era Presiden Joko Widodo, forum ini tidak lagi dilanjutkan karena dianggap kurang relevan dengan agenda ekonomi. Sementara itu, di era Presiden Prabowo, pola diplomasi Indonesia lebih menonjol pada summit diplomacy, yakni keterlibatan langsung kepala negara dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi. Pola ini dinilai memiliki kelebihan sekaligus kelemahan, dan masih terlalu dini untuk disimpulkan hasil akhirnya.
Lebih lanjut, Muhadi juga menyoroti beberapa langkah kontroversial dalam kebijakan luar negeri Indonesia saat ini, antara lain rencana kerja sama eksplorasi bersama dengan Tiongkok di Natuna serta wacana pemindahan 1.000 warga Gaza ke Indonesia. Kedua hal tersebut menurutnya dapat menjadi blunder diplomatik yang memerlukan kehati-hatian dalam implementasinya.
Selain diskusi publik, acara ini juga dirangkaikan dengan launching buku dari Hi-Verse, sebuah action group mahasiswa HI UNS yang berfokus pada kepenulisan ilmiah. Dalam kesempatan ini, mahasiswa yang terlibat turut mempresentasikan karya mereka dalam bentuk book chapter, yang menjadi bukti nyata kontribusi akademik mahasiswa HI UNS dalam bidang penulisan dan riset.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa HI UNS tidak hanya memperoleh pemahaman mendalam tentang dinamika kebijakan luar negeri Indonesia, tetapi juga semakin termotivasi untuk mengembangkan kemampuan akademik, riset, dan kepenulisan dalam menghadapi tantangan global ke depan.