Bedah Sisi Lain Negeri Ginseng: Laboratorium Soft Power Diplomacy Hubungan Internasional UNS Gelar Diskusi “Cerita dari Korea Selatan”

Surakarta, 11 Maret 2026—Laboratorium Soft Power Diplomacy, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan bincang publik bertajuk “Cerita dari Korea Selatan”. Acara ini menghadirkan dua pakar, Monika Sri Yuliarti, Ph.D. dan Erina Ikawati, M.A., dengan dipandu oleh Dr. Muhnizar Siagian, M.I.Pol. sebagai moderator sekaligus ketua pelaksana.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Didik Gunawan Suharto, S.Sos., M.Si. selaku Dekan FISIP UNS. Beliau menekankan bahwa diskusi ini merupakan peluang emas bagi mahasiswa, serta diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa yang memiliki ambisi untuk melanjutkan studi maupun meniti karier di Korea Selatan.

Dalam sesi pertama, Monika berbagi pengalaman personalnya selama menempuh studi di Korea Selatan. Ia menceritakan tantangan emosional saat harus meninggalkan keluarga demi pendidikan, hingga fenomena culture shock yang dialami saat berangkat maupun ketika kembali ke tanah air.

Monika juga menyoroti keunikan budaya masyarakat Korea Selatan, seperti kentalnya “hustle culture” atau budaya gerak cepat yang cenderung individualis. “Di sana, saat musim ujian tiba, kafe-kafe akan dipenuhi orang yang fokus belajar. Ini adalah cerminan betapa tingginya etos belajar mereka,” ungkapnya. Selain itu, ia memberikan tips berharga mengenai peluang beasiswa di Korea Selatan yang sangat terbuka, bahkan bagi mereka yang belum memiliki topik riset spesifik.

Diskusi berlanjut pada fenomena Korean Wave (Hallyu). Terungkap bahwa kesuksesan global K-Pop bukanlah sebuah kebetulan, melainkan strategi yang dirancang secara matang (by design) oleh pemerintah Korea Selatan dengan dukungan dana yang masif. Data menunjukkan nilai pasar K-Pop global mencapai USD 9,08 juta dengan 200 juta fans aktif di seluruh dunia.

Menariknya, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai penikmat budaya Korea terbesar setelah Korea Selatan dan Jepang. Monika menambahkan hasil risetnya mengenai “female pleasure” dalam aktivitas fangirling. Ia menyoroti bagaimana perempuan Muslim Indonesia di Korea melakukan negosiasi religiositas serta peran fans sebagai micro-influencer yang memiliki agensi kuat di industri tersebut.

Erina Ikawati, M.A. melengkapi diskusi dengan membedah alasan di balik popularitas K-Pop. Menurutnya, K-Pop sering menjadi bentuk “emotional escapism” bagi para fans untuk lari sejenak dari tuntutan kehidupan. Erina juga memaparkan kontras antara soft masculinity (sosok pria ekspresif, perhatian, dan romantis) yang ditampilkan para idol dengan maskulinitas tradisional yang masih dominan di kehidupan nyata masyarakat Korea.

Namun, di balik citra soft masculinity yang manis, Korea Selatan menyimpan sebuah paradoks sosial yang tajam. Erina memaparkan fakta bahwa Korea Selatan menduduki peringkat 105 dari 146 negara dalam hal kesenjangan gender (gender gap). Selain itu, negara ini tercatat memiliki gender pay gap tertinggi di antara negara-negara anggota OECD. “Sosok pria lembut yang kita lihat di layar sering kali hanyalah produk ekspor budaya, bukan cerminan kehidupan sehari-hari di sana,” tutup Erina.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap dinamika sosial dan politik budaya di Korea Selatan.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait

Berita Terbaru